Dolar Memperpanjang Kenaikan usai Preskon Powell
Dolar AS melanjutkan reli setelah Ketua Federal Reserve Jerome Powell berbicara kepada media menyusul keputusan The Fed mempertahankan suku bunga. Penguatan dolar sebelumnya sudah mendapat dorongan dari data PPI AS yang lebih panas dari perkiraan serta eskalasi terbaru di Timur Tengah, yang kembali mengerek harga energi dan memperkuat kekhawatiran inflasi.
Indeks Bloomberg Dollar Spot naik sekitar 0,5%, menjadi penguatan pertama dalam sepekan. Alex Cohen, strategist valas Bank of America, menilai pasar menangkap konferensi pers Powell sebagai sedikit hawkish. Menurutnya, Powell cenderung meremehkan pelemahan tenaga kerja belakangan dan menekankan The Fed masih butuh lebih banyak kemajuan pada inflasi—bahkan sebelum shock minyak—yang mendorong suku bunga AS naik dan dolar ikut terdorong.
Dari sisi data, inflasi grosir AS (wholesale inflation) dilaporkan meningkat lebih cepat pada Februari, mencerminkan kenaikan biaya barang dan jasa bahkan sebelum perang Iran. Di saat yang sama, Iran memperingatkan negara-negara Teluk bahwa sejumlah aset energi kini menjadi “target sah” setelah Israel menyerang ladang gas raksasa South Pars, memicu gelombang baru guncangan pada pasar minyak dan gas.
Harga Brent naik dan menembus $109 per barel, sementara pasar obligasi AS ikut bereaksi. Yield Treasury 10 tahun naik sekitar 6 bps ke 4,26%, dan yield 2 tahun naik 10 bps ke 3,77%, mempertegas repricing “higher-for-longer” yang biasanya mendukung dolar.
Di pasar mata uang, USD/CAD naik 0,3% ke 1,3725, melanjutkan penguatan untuk kelima kalinya dalam enam hari setelah Bank of Canada menahan suku bunga. BoC menyatakan akan “look through” dampak inflasi langsung dari konflik Timur Tengah sambil lebih fokus pada risiko pertumbuhan.
Perhatian trader juga mengarah pada franc Swiss. Pricing volatilitas satu hari pada pasangan berbasis dolar menunjukkan pelaku pasar saat ini lebih fokus pada potensi pergerakan tajam di CHF jika SNB memberi sinyal lebih kuat untuk menahan penguatan franc. Volatilitas overnight EUR/CHF melonjak, sementara pasangan tersebut diperdagangkan di bawah area 0,91. Pada saat yang sama, USD/CHF naik sekitar 1% ke 0,7927, menjadi level terlemah sejak Januari untuk franc terhadap dolar.
Di Eropa, EUR/USD turun sekitar 0,6% ke 1,1469. Pelaku pasar juga mencatat volume spot dan opsi hanya sekitar 50%–60% dari rata-rata terkini, menandakan likuiditas dan partisipasi belum sepenuhnya pulih di tengah volatilitas headline-driven.
Sementara itu, USD/JPY naik untuk pertama kalinya pekan ini ke sekitar 159,81. Pasar menilai jika level tersebut tembus, pasangan ini berpotensi menguji angka psikologis 160, yang kerap menjadi titik perhatian karena sensitivitas isu intervensi Jepang.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id