Dolar Berhenti Menguat, Pasar Risk-On Meski Minyak Tetap Tinggi
Dolar AS melemah untuk pertama kalinya dalam empat hari pada perdagangan Senin, menghentikan reli tiga sesi beruntun. Pelemahan dolar terjadi bersamaan dengan pemulihan selera risiko, tercermin dari kontrak berjangka saham AS yang menguat meski harga minyak tetap bertahan tinggi.
Futures S&P 500 naik sekitar 0,5% dan kontrak Nasdaq juga menguat dengan besaran serupa. Di komoditas energi, WTI bertahan tepat di bawah $100 per barel, sementara Brent naik mendekati $105, menandakan premi geopolitik masih terjaga.
Di pasar valas G-10, dolar Australia dan dolar Selandia Baru memimpin penguatan, sejalan dengan membaiknya sentimen risiko global. Yield US Treasury 10-tahun turun tipis 1 basis poin ke 4,27%, memberi ruang bagi mata uang berisiko untuk menguat dan menekan greenback.
Yen menguat terbatas terhadap dolar setelah pejabat Jepang Katayama kembali menegaskan peringatan bahwa otoritas siap mengambil langkah “tegas” di pasar valuta asing bila diperlukan. Nada tersebut menjaga kewaspadaan pelaku pasar terhadap potensi intervensi, terutama saat volatilitas meningkat.
Di Asia, saham Hong Kong menguat, sementara indeks saham China daratan memangkas pelemahan setelah rilis data aktivitas China yang lebih kuat dari perkiraan. Output industri Februari tercatat 6,3% (perkiraan 5,3%), penjualan ritel 2,8% (perkiraan 2,5%), dan investasi aset tetap 1,8% (perkiraan -5,1%), meski tingkat pengangguran naik ke 5,3% (perkiraan 5,1%). Yield obligasi China tenor 30 tahun juga menuju penutupan tertinggi sejak 2024, menambah sorotan pada dinamika suku bunga global.
Fokus pasar tetap pada geopolitik dan implikasinya ke inflasi. Sejumlah headline terkait konflik Iran, termasuk pernyataan Presiden AS Donald Trump yang membuat sekutu maupun lawan “menebak-nebak” arah akhir konflik, serta ancaman penundaan pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping jika Beijing tidak membantu membuka jalur Hormuz, menjaga ketidakpastian tetap tinggi.
Di aset lain, emas cenderung tertahan di sekitar area $5.000 per ounce, sementara Bitcoin menguat sekitar 3% mendekati $74.000. Ke depan, arah dolar berpotensi ditentukan oleh kombinasi sentimen risk-on/off, ketahanan harga minyak, pergerakan yield AS, serta perkembangan kebijakan dan komunikasi bank sentral termasuk The Fed dan peringatan intervensi dari Jepang.(asd)
Sumber: Newsmaker.id