Inflasi Panas, Dolar Australia Ikut Nanjak
Dolar Australia (AUD) naik tipis ke sekitar $0,660 dan sempat sentuh level tertinggi tiga minggu pada Rabu(29/10). Penyebabnya simpel: pasar sekarang hampir nggak percaya lagi kalau bank sentral Australia (RBA) bakal nurunin suku bunga minggu depan. Kenapa? Karena inflasi masih panas. Data terakhir nunjukin inflasi tahunan Australia di September 2025 naik jadi 3,5%, lebih tinggi dari ekspektasi pasar dan naik dari 3% bulan sebelumnya. Lonjakan harga terutama datang dari biaya rumah (housing) dan transportasi, termasuk energi dan bahan bakar yang makin mahal. Ini bikin inflasi tetap di atas target resmi RBA 2%–3%.
Yang bikin pasar makin kaget: inflasi inti juga naik. Ukuran yang jadi pegangan RBA — trimmed mean — naik jadi sekitar 3% per tahun, dan bahkan lompat 1% dibanding kuartal sebelumnya. Ini pertama kalinya angka inti naik lagi sejak akhir 2022, jadi sinyal bahwa tekanan harga bukan cuma sementara. Artinya, harga jasa dan biaya hidup sehari-hari di Australia masih nempel tinggi, walaupun pasar tenaga kerja mulai agak mendingin. RBA sebelumnya sudah bilang mereka khawatir inflasi jasa dan sewa rumah nggak turun secepat yang diharapkan.
Hasilnya: investor mundur dari taruhan “RBA bakal potong bunga cepat.” Sekarang pasar hampir sepenuhnya berekspektasi RBA bakal tahan suku bunga di 3,6% pada rapat 4 November, bukan potong lagi. Nada besarnya berubah jadi: inflasi masih ngeyel, jadi pelonggaran kebijakan nggak bisa buru-buru. Itu sebabnya AUD kelihatan kuat — karena pasar baca sinyal bahwa suku bunga Australia kemungkinan tetap lebih tinggi lebih lama. (az)
Sumber: Newsmaker.id