Harga Perak Konsolidasi di $41, Sentimen Fokus pada Inflasi AS
Harga perak diperdagangkan stabil pada sesi Eropa hari Selasa (9/9) di kisaran $41,2 per ons, setelah sempat turun tipis 0,16% di sesi sebelumnya. Pergerakan ini terjadi setelah reli kuat pekan lalu yang membawa perak ke level tertinggi sejak 2011. Saat ini, pelaku pasar sedang menahan diri jelang rilis data inflasi produsen (PPI) dan inflasi konsumen (CPI) Amerika Serikat, yang diperkirakan akan menjadi penentu arah pasar komoditas, termasuk logam mulia.
Ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve bulan ini masih menjadi faktor dominan yang menopang harga perak. Data ketenagakerjaan AS yang lemah pekan lalu meningkatkan keyakinan bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin, bahkan sebagian pelaku pasar mulai memperkirakan potensi pemangkasan yang lebih agresif. Kebijakan moneter yang lebih longgar biasanya menguntungkan perak dan emas karena menekan imbal hasil obligasi serta melemahkan dolar AS, sehingga meningkatkan daya tarik aset non-yield seperti logam mulia.
Selain faktor moneter, permintaan industri juga terus mengangkat prospek perak. Peningkatan kebutuhan untuk panel surya dan teknologi ramah lingkungan di Tiongkok dan India mendorong konsumsi logam ini ke level tinggi. Ditambah lagi, ketidakpastian global, mulai dari tensi geopolitik hingga risiko ekonomi akibat kebijakan tarif baru AS, membuat investor semakin melirik perak sebagai aset lindung nilai. Jika data inflasi AS pekan ini memperkuat sinyal pelemahan ekonomi, harga perak berpeluang menguji kembali level psikologis $42 per ons dalam waktu dekat. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id