Perak Terkoreksi Jelang Data NFP AS
Harga perak (silver) bergerak melemah tipis pada perdagangan Jumat, setelah sebelumnya sempat menguat cukup agresif di awal pekan. Pelaku pasar cenderung menahan posisi besar karena fokus utama saat ini mengarah ke rilis data tenaga kerja AS (Nonfarm Payrolls/NFP).
Tekanan utama datang dari dolar AS yang masih bertahan kuat. Saat dolar menguat, perak biasanya ikut tertekan karena menjadi lebih mahal bagi pembeli di luar AS, sehingga minat beli cenderung menurun dalam jangka pendek.
Namun, penurunan perak berpotensi terbatas karena pasar masih menilai The Fed berpeluang tetap dovish tahun ini. Ekspektasi pemangkasan suku bunga biasanya mendukung logam mulia, termasuk perak, karena biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil jadi lebih rendah.
Pergerakan perak juga dipengaruhi dinamika “dua wajah”: selain dianggap aset safe haven seperti emas, perak punya komponen permintaan industri yang besar. Karena itu, setiap perubahan ekspektasi ekonomi—terutama dari data AS—bisa cepat mengubah arah pergerakan harga.
Menjelang NFP, trader akan membaca data untuk menentukan apakah ekonomi AS cukup kuat atau mulai melambat. Jika data lebih lemah dari perkiraan, pasar bisa makin yakin pada peluang pemangkasan suku bunga—yang berpotensi mendorong perak pulih. Sebaliknya, data yang terlalu kuat bisa memperpanjang penguatan dolar dan menekan perak lebih dalam.
Di luar faktor ekonomi, risiko geopolitik juga ikut menjadi penahan penurunan. Ketegangan global dan ketidakpastian kebijakan sering memicu permintaan aset lindung nilai, sehingga setiap koreksi perak berpeluang memancing aksi beli saat harga turun.
5 inti poin:
Perak melemah tipis karena pasar menunggu rilis data NFP AS.
Dolar AS yang kuat menjadi tekanan utama untuk harga perak.
Ekspektasi The Fed dovish/potensi cut rate membantu membatasi penurunan perak.
Perak sensitif karena dipengaruhi dua faktor: safe haven + permintaan industri.
Geopolitik yang memanas bisa memicu aksi beli saat harga perak terkoreksi.(asd)
Sumber: Newsmaker.id