Perak Tembus Rekor di Atas $60, Apa Sih Pemicunya?
Harga perak semakin menguat setelah berhasil menembus level $60 per ounce untuk pertama kalinya. Pada Rabu pagi, perak sempat menyentuh rekor sekitar $60,92 per ounce, melanjutkan lonjakan 4,3% di sesi sebelumnya. Kenaikan cepat ini bikin banyak pelaku pasar makin melirik perak sebagai salah satu aset unggulan di tengah sentimen pelonggaran suku bunga.
Dari sisi fundamental, rally perak ini banyak didukung oleh ekspektasi bahwa Federal Reserve akan kembali memangkas suku bunga acuan sebesar 0,25% pada akhir pertemuan 9–10 Desember. Suku bunga yang lebih rendah biasanya menjadi angin segar bagi logam mulia seperti perak dan emas, karena imbal hasil instrumen lain (seperti obligasi) jadi kurang menarik jika dibandingkan aset yang tidak memberikan bunga.
Pasar juga tidak hanya fokus pada keputusan The Fed minggu ini, tapi sudah mengintip arah kebijakan untuk tahun depan. Kevin Hassett, yang disebut-sebut sebagai kandidat terkuat pengganti Jerome Powell sebagai Ketua The Fed, menyatakan bahwa masih ada ruang cukup besar untuk memangkas suku bunga lebih jauh lagi. Pernyataan ini makin memperkuat spekulasi bahwa era suku bunga lebih rendah bisa berlanjut.
Dari sisi pasokan, perak juga ditopang oleh kondisi fisik yang masih relatif ketat. Pasar global masih dalam tahap pemulihan setelah tekanan suplai besar pada Oktober lalu. Memang, aliran logam ke gudang-gudang di London mulai membaik, tetapi biaya pinjaman perak masih tinggi, tanda bahwa pasokan belum benar-benar longgar. Di sisi lain, stok perak di Tiongkok bahkan sudah turun ke level terendah dalam satu dekade.
Pada saat berita ini diangkat, harga perak masih naik sekitar 0,3% di kisaran $60,86 per ounce. Emas juga ikut menguat tipis sekitar 0,1% ke level $4.211,30 per ounce, sementara platinum dan paladium cenderung stabil. Indeks Dolar Bloomberg bergerak datar setelah sebelumnya sempat menguat 0,1%, sehingga belum menjadi hambatan besar bagi pergerakan logam mulia hari ini.(asd)
Source: Bloomberg