Minyak turun 1% karena risiko Iran mereda dan premi geopolitik memudar
Harga minyak terkoreksi sekitar 1% pada Senin (19/1), membalikkan kenaikan sesi sebelumnya. Tekanan datang setelah ketegangan sipil di Iran mereda, sehingga pasar menilai peluang serangan AS—yang berpotensi mengganggu pasokan dari salah satu produsen utama Timur Tengah—ikut menurun. Namun, sentimen belum benar-benar tenang karena pasar masih memantau risiko perang dagang AS–Eropa serta potensi gangguan pasokan dari Rusia hingga Kazakhstan.
Pada pukul 09:12 GMT:
Brent turun 65 sen (1%) ke US$63,48/barel
WTI Februari turun 65 sen (~1%) ke US$58,84/barel
Kontrak Februari akan berakhir Selasa, sementara kontrak WTI Maret (lebih aktif) berada di US$58,77, turun 57 sen (1%)
Iran reda, peluang intervensi dinilai mengecil
Menurut laporan, aksi protes yang dipicu tekanan ekonomi di Iran mulai mereda setelah penindakan keras oleh otoritas. Pejabat Iran disebut mengklaim korban jiwa mencapai 5.000 orang. Di saat yang sama, Presiden AS Donald Trump terlihat meredakan nada ancaman intervensi, dengan menyebut di media sosial bahwa Iran telah membatalkan rencana “hukuman gantung massal”—meski Iran tidak mengumumkan rencana tersebut secara resmi.
Dinamika ini dinilai menurunkan peluang intervensi AS yang bisa mengganggu arus ekspor Iran, yang merupakan produsen terbesar ke-4 di OPEC.
Fokus pasar bergeser: perang dagang & permintaan minyak
Analis John Evans dari PVM Oil Associates menilai sentimen hati-hati saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh kekhawatiran dampak melebar-nya perang dagang terhadap ekonomi global—yang pada akhirnya menekan permintaan minyak.
“Sentimen kehati-hatian didorong dampak perluasan perang dagang… terhadap perdagangan global dan pada akhirnya permintaan minyak,” kata Evans.
Pasar juga mencermati ketegangan AS–Eropa terkait isu Greenland, yang dinilai berpotensi meningkatkan ketidakpastian dagang dan memperbesar volatilitas.
Risiko pasokan belum hilang: Rusia, cuaca dingin, hingga Kazakhstan
Meski premium geopolitik Iran melemah, pasar belum sepenuhnya nyaman. Evans menambahkan bahwa risiko kerusakan infrastruktur Rusia dan gangguan pasokan distillate tetap jadi perhatian, terutama menjelang proyeksi cuaca lebih dingin di Amerika Utara dan Eropa.
Sementara itu, dari sisi pasokan, perusahaan Kazakhstan Tengizchevroil (dipimpin Chevron) menyatakan telah menghentikan sementara produksi sebagai langkah pencegahan di ladang Tengiz dan Korolev, setelah ada masalah pada sistem distribusi listrik.
Catatan perdagangan
Pasar AS tutup pada Senin karena libur Martin Luther King Jr. Day, yang juga bisa membuat likuiditas lebih tipis dan pergerakan lebih “cepat” saat berita masuk.(yds)
Sumber: Newsmaker.id