AS-Iran Teken Kesepakatan Awal, Hormuz Kembali Dibuka
AS dan Iran telah menandatangani kesepakatan awal untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz, meski kesepakatan mengenai program nuklir Teheran masih harus dinegosiasikan. Presiden AS Donald Trump menandatangani memorandum of understanding saat jamuan makan malam di Istana Versailles, Prancis, pada Rabu (16/6), lebih cepat dari rencana seremoni resmi di Swiss pada Jumat (19/6).
Dokumen tersebut juga ditandatangani oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian atas nama Teheran. Kesepakatan ini disebut langsung berlaku dan mencakup penghentian permanen permusuhan antara AS dan Iran. Namun, Trump tetap memperingatkan bahwa serangan terhadap Iran dapat dimulai kembali jika kesepakatan tidak dijalankan sesuai harapan Washington.
Kesepakatan juga memulai tenggat 60 hari untuk negosiasi program nuklir Iran. Pembicaraan dijadwalkan berlangsung di Swiss dari Jumat hingga Minggu. Isu ini tetap menjadi bagian paling sensitif karena AS ingin membatasi kemampuan nuklir Iran, sementara Teheran menegaskan program nuklirnya bersifat damai.
Teks lengkap memorandum belum dirilis oleh Gedung Putih, sehingga sebagian detail masih belum jelas. Namun, draf yang beredar menunjukkan kesepakatan mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur penting bagi sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair dunia. Jalur tersebut akan dibuka tanpa tarif selama dua bulan, meski kemungkinan biaya di masa depan belum sepenuhnya dihapus.
Sebagai bagian dari kesepakatan, AS disebut akan memberikan waiver terhadap sebagian sanksi Iran. Selain itu, rencana dana rekonstruksi senilai $300 miliar untuk Iran juga akan dibentuk, meski Trump menegaskan AS tidak akan ikut menyumbang ke dana tersebut.
Bagi pasar energi, pembukaan kembali Hormuz menjadi faktor utama karena dapat membantu memulihkan arus pasokan dan meredakan tekanan harga minyak. Namun, sejumlah negara masih meninjau ulang strategi energi mereka karena risiko Iran kembali menutup jalur tersebut belum sepenuhnya hilang.
Kesepakatan juga menegaskan kembali integritas teritorial Lebanon. Isu ini penting karena serangan Israel yang bersekutu dengan AS terhadap Hezbollah yang didukung Iran di Lebanon menjadi salah satu hambatan utama dalam pembicaraan damai. Fokus berikutnya tertuju pada negosiasi nuklir, implementasi pembukaan Hormuz, dan seberapa jauh kesepakatan awal ini dapat bertahan. (arl)
Sumber : Newsmaker.id