Emas Masih Diminati Walau Negosiasi Telah Terjadi
Amerika Serikat sudah mulai mengklaim bahwa banyak negara yang sudah melakukan negosiasi dengan mereka untuk mencapai kesepakan dagang demi mengurangi tariff yang rencananya akan mulai diberlakukan 3 bulan dari sekarang, dimana hal ini secara singkat telah membuat harga emas sedikit mengalami pullback dari level tertingginya sepanjang masa.
Sentimen pasar juga terlihat membaik secara menyeluruh untuk memulai minggu ini karena pengecualian tarif pada produk teknologi dari Tiongkok. Sinyal overbought menunjukkan potensi pullback, tetapi emas tetap kuat dengan level support utama yang utuh. Jadi bila kita melihat dari sisi teknikalnya sendiri beberapa time frame telah mengisyaratkan adanya jenuh beli yang dalam jangka pendek dapat membuat emas mengalami koreksi teknis.
Sementara aspek lain dalam fundamental menunjukkan bahwa sikap Washington yang terus berubah yang ditandai dengan perubahan haluan, penundaan tariff terhadap banyak negara, dan ketidakpastian membuat bisnis waspada dalam berinvestasi, menciptakan ketidakpastian yang sempurna di mana emas cenderung tumbuh subur. Dukungan lain datang dari peningkatan prediksi untuk emas dari beberapa perusahaan perbankan besar di AS, salah satunya adalah Goldman Sachs.
Goldman Sachs dikatakan telah meningkatkan perkiraannya untuk harga emas pada akhir tahun 2025 menjadi $3.700 per ons, naik dari $3.300. Mereka memperkirakan harga akan berkisar antara $3.650 dan $3.950, didorong oleh permintaan yang lebih tinggi dari bank sentral dan peningkatan investasi dalam dana yang didukung emas karena kekhawatiran resesi. Bank tersebut juga mencatat bahwa jika resesi terjadi, lebih banyak uang dapat mengalir ke investasi pada logam ini, mendorong harga emas menjadi $3.880 per ons pada akhir tahun.
Harga emas akan tetap didukung meskipun penurunan apa pun kemungkinan akan terjadi dalam jangka pendek. Volatilitas kemungkinan akan tetap tinggi dan perubahan harga akan menjadi hal yang normal.
Sumber : (mrv@Newsmaker)