Harga Minyak Dalam Tekanan Perdamaian Rusia-Ukraina
Harga minyak mentah dunia belakangan ini mengalami tekanan yang cukup kuat setelah sebelumnya mengalami kenaikan yang baik seiring meningkatnya permintaan terhadap minyak pemanas akibat musim dingin extrem di negara-negara belahan utara.
OPEC+ pada akhir tahun 2024 lalu telah mengumumkan adanya penurunan pada proyeksi permintaan minyak global seiring dengan memburuknya ekonomi Cina yang merupakan salah satu konsumen minyak terbesar di dunia. Langkah-langkah pencegahan langsung diambil, OPEC+ tetap melanjutkan pemotongan produksi mereka hingga awal 2025.
Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden juga memberikan tekanan tambahan pada harga minyak. Tidak seperti Biden yang terus mencoba mengurangi produksi untuk menyeimbangkan harga minyak, Trump justru ingin agar semua tangka penampung stok minyak AS di isi penuh hingga mengakibatkan membanjirnya stok minyak dipasaran.
Dalam waktu dekan ini kita mungkin akan melihat harga minyak akan mengalami penurunan yang signifikan setelah adanya berita yang menyebutkan bahwa Trump sedang mengusahakan adanya perdamaian antara Rusia dan Ukraina yang mana hal tersebut kemungkinan dapat membuat Rusia kembali beraksi di pasar minyak dunia setelah sebelumnya mendapatkan sanksi terhadap export minyak mereka.
Dalam jangka pendek minyak diprediksi masih akan mengalami penurunan karena masih lesunya permintaan serta stok tarif dari Trump yang merugikan sentiment. Saat ini minyak acuan internasional Brent masih di perdagangkan disekitar $75 per barel, sementara WTI diperdagangkan di sekitar $71 per barel.
Sumber : (mrv@Newsmaker)