
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Dolar Amerika Serikat (AS) bergerak relatif stabil terhadap sejumlah mata uang utama pada perdagangan Rabu (21/10/2026), seiring meningkatnya ketegangan geopolitik Timur Tengah yang kembali mendorong permintaan terhadap aset aman. Indeks Dolar AS (DXY) bertahan di sekitar level 101,76 setelah melemah 0,2% pada perdagangan sebelumnya dan sempat menyentuh 101,50, level terendah sejak 1 Oktober. Meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak akibat konflik AS-Israel dengan Iran turut memberikan dukungan bagi greenback, meskipun penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS masih membatasi penguatannya.
Di pasar valuta asing, euro melemah 0,1% menjadi US$1,122 dan telah kehilangan hampir 1% sepanjang Oktober akibat meningkatnya ketidakpastian politik serta memburuknya kondisi fiskal Prancis. Gelombang demonstrasi antipemerintah dan kekhawatiran terhadap utang negara mendorong biaya pinjaman Prancis mendekati level tertinggi dalam 24 tahun. Sementara itu, poundsterling relatif stabil di US$1,33 setelah inflasi Inggris meningkat melampaui ekspektasi, memperkuat kemungkinan kenaikan suku bunga Bank of England pada November. Yen Jepang juga bertahan di kisaran 158,10 per dolar AS, didukung sinyal Bank of Japan mengenai peluang pengetatan kebijakan moneter lanjutan.
Ketegangan Timur Tengah menjadi perhatian utama investor setelah muncul laporan bahwa Iran belum bersedia melanjutkan pembicaraan dengan Washington sebelum sejumlah tuntutannya dipenuhi. Di sisi lain, harga minyak dunia kembali meningkat lebih dari US$1 per barel akibat kekhawatiran gangguan distribusi energi dan penurunan persediaan minyak AS. Kondisi tersebut berpotensi memperkuat tekanan inflasi global sekaligus meningkatkan daya tarik dolar sebagai aset aman. Namun, pelemahan imbal hasil Treasury AS dan ketidakpastian kinerja saham teknologi masih menjadi hambatan bagi penguatan dolar yang lebih besar.
Sementara itu, dolar Australia menguat 0,3% menjadi US$0,7026, menyentuh level tertinggi dalam tiga pekan setelah pejabat Reserve Bank of Australia memperingatkan memburuknya prospek inflasi. Sebaliknya, dolar Selandia Baru melemah 0,1% ke US$0,568, sedangkan dolar Kanada stabil di C$1,405 per dolar AS. Di kawasan Asia, rupiah Indonesia turut melemah tipis 0,1% setelah Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuannya untuk keempat kalinya secara berturut-turut, tetapi menaikkan suku bunga Deposit Facility. Investor kini mencermati perkembangan konflik Iran, pergerakan harga minyak, imbal hasil obligasi AS, serta laporan keuangan perusahaan teknologi besar untuk menentukan arah dolar dalam perdagangan berikutnya.
Point of View Newsmaker
Pergerakan dolar AS saat ini memperlihatkan tarik-menarik antara dua kekuatan utama, yaitu meningkatnya permintaan aset aman akibat konflik Timur Tengah dan tekanan dari penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Lonjakan harga minyak menjadi faktor penting karena berpotensi meningkatkan inflasi, sehingga ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga tinggi The Fed dapat kembali menguat. Namun, jika yield Treasury terus menurun, penguatan dolar berisiko tetap terbatas meskipun ketegangan geopolitik meningkat.
Dari sisi teknikal, indeks dolar AS perlu mempertahankan area 101,50 sebagai support jangka pendek. Jika berhasil menguat melewati 102,00, peluang pemulihan menuju 102,30 berpotensi terbuka. Sebaliknya, penembusan di bawah 101,50 dapat memperbesar tekanan jual menuju area 101,00.
Kesimpulan: Dolar AS masih berada dalam fase konsolidasi dengan peluang penguatan terbatas selama risiko geopolitik tetap tinggi. Bagi emas, situasi ini menciptakan sentimen campuran karena meningkatnya permintaan aset aman dapat mendukung harga, sementara potensi suku bunga tinggi dan penguatan dolar justru menjadi tekanan. Area teknikal tersebut merupakan skenario pemantauan, bukan kepastian target harga.
Sumber: Newsmaker.id