Market Waiting for Evidence of Normal Hormuz
Brent diperdagangkan sekitar $82,55 per barel pada sesi Asia hari ini, bertahan tinggi setelah reli tajam beberapa hari terakhir. Penguatan ini mencerminkan pasar yang masih memasang premi risiko geopolitik akibat perang AS–Israel vs Iran dan gangguan di jalur energi utama, terutama Selat Hormuz chokepoint yang menyalurkan sekitar seperlima aliran minyak dan gas dunia.
Dari sisi fundamental, isu terbesar tetap pada kelancaran pengapalan dan risiko suplai. Reuters melaporkan gangguan yang makin terasa termasuk pemangkasan output oleh Irak (produsen besar OPEC) karena hambatan ekspor dan keterbatasan penyimpanan, yang membuat pasar menilai risiko “tight supply” dalam waktu dekat semakin nyata.
Upaya stabilisasi dari Washington belum sepenuhnya menurunkan ketegangan harga. Rencana dukungan asuransi dan opsi pengawalan kapal dinilai membantu menahan lonjakan lebih ekstrem, tetapi pelaku pasar masih menunggu bukti implementasi dan indikator paling penting: apakah traffic kapal di Hormuz benar-benar kembali mendekati normal. Selama itu belum terjadi, pergerakan minyak cenderung sangat sensitif terhadap headline eskalasi atau de-eskalasi.
Sementara itu, faktor penahan datang dari Amerika Serikat. Laporan persediaan minyak AS terbaru menunjukkan stok crude meningkat (di atas perkiraan), yang secara teori bisa menahan kenaikan harga. Namun untuk saat ini, data stok cenderung “kalah suara” dibanding risiko suplai dari Timur Tengah, sehingga pasar tetap menempatkan geopolitik sebagai penentu utama arah intraday.
Pandangan ke depan: selama Hormuz masih terganggu dan risiko suplai belum mereda, bias Brent tetap bullish namun volatil—lebih mudah naik pada headline negatif (serangan, penutupan rute, pemangkasan produksi) dibanding turun. Koreksi yang lebih bermakna biasanya membutuhkan bukti konkret bahwa pengapalan pulih dan gangguan suplai mereda; tanpa itu, Brent berpotensi bertahan di area tinggi dan tetap rawan lonjakan mendadak. Goldman Sachs bahkan menilai risiko harga tetap condong ke atas jika gangguan Hormuz berkepanjangan.(asd)
Source: Newsmaker.id