
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak dunia bergerak melemah pada perdagangan Jumat (25/09) setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat dan Iran tengah menjajaki kemungkinan kesepakatan bertahap yang dapat membuka kembali Selat Hormuz. Perkembangan tersebut mengurangi kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global meskipun risiko geopolitik masih tetap tinggi.
Harga Brent crude turun menuju US$106 per barel setelah sebelumnya melonjak lebih dari 7% dalam dua sesi terakhir. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) bergerak di bawah US$94 per barel. Penurunan terjadi setelah pasar merespons kemungkinan adanya kemajuan diplomasi antara Washington dan Tehran di sela agenda Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Menurut sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut, kedua pihak sedang mendorong kemungkinan kesepakatan bertahap yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz. Jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global tersebut sebelumnya menjadi pusat perhatian karena membawa sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam dunia sebelum konflik meningkat.
Namun, pasar masih berhati-hati karena hubungan AS–Iran telah beberapa kali mengalami kegagalan dalam mencapai kesepakatan. Konflik yang memasuki bulan ketujuh masih menimbulkan risiko terhadap jalur perdagangan energi, ditambah dengan meningkatnya aktivitas militer di kawasan Timur Tengah setelah serangan kelompok Houthi terhadap wilayah Saudi.
Newsmaker melihat, harga minyak saat ini berada dalam tarik-menarik antara harapan diplomasi dan risiko gangguan pasokan. Jika kesepakatan bertahap AS–Iran benar-benar terealisasi dan aktivitas ekspor melalui Hormuz kembali normal, harga minyak berpotensi turun kembali di bawah US$100 per barel. Namun, kegagalan negosiasi atau gangguan baru pada jalur energi dapat kembali mendorong Brent menuju area US$120 per barel.