
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak melonjak pada perdagangan Kamis (24/9) setelah mengalami tekanan dalam beberapa sesi terakhir. Brent crude bergerak di sekitar US$107,20 per barel, sementara WTI berada di kisaran US$94,61 per barel, setelah kenaikan sekitar 3% pada perdagangan terbaru. Kenaikan harga dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran gangguan pasokan setelah serangan rudal kelompok Houthi terhadap Arab Saudi kembali meningkatkan risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Arab Saudi menyatakan berhasil mencegat enam rudal balistik yang diluncurkan Houthi ke wilayah selatan Taif dan kawasan Yanbu di Laut Merah. Serangan tersebut kembali mengingatkan pasar bahwa infrastruktur energi dan jalur perdagangan global masih rentan terhadap eskalasi konflik, terutama ketika ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat belum menemukan titik penyelesaian.
Di sisi lain, pasar tetap mencermati perkembangan diplomasi antara Washington dan Teheran. Amerika Serikat dan Iran disebut tengah membahas kemungkinan penyelesaian bertahap, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz dengan imbalan pengurangan blokade ekonomi terhadap Iran. Namun, kedua pihak masih mempertahankan posisi masing-masing karena Selat Hormuz menjadi aset strategis dalam negosiasi.
Selain faktor geopolitik, perhatian pasar juga tertuju pada pasokan energi global yang semakin ketat, khususnya sektor diesel. Rencana pembatasan ekspor diesel AS yang sempat muncul menjadi kekhawatiran baru bagi pasar energi, meskipun pejabat AS membantah adanya keputusan final terkait kebijakan tersebut. Kekurangan pasokan diesel global juga dipengaruhi oleh gangguan ekspor Rusia dan konflik di kawasan Timur Tengah.
Sementara itu, Arab Saudi mulai meningkatkan kembali aktivitas distribusi minyak melalui East-West Pipeline menuju fasilitas ekspor Yanbu di Laut Merah. Langkah ini menjadi salah satu upaya Riyadh untuk mengurangi ketergantungan terhadap jalur Selat Hormuz yang menjadi titik panas konflik antara Iran dan negara-negara Barat.
Analisis Newsmaker: Pergerakan minyak saat ini masih berada dalam tarik-menarik antara risiko geopolitik dan harapan penyelesaian diplomasi. Serangan Houthi dan ketidakpastian hubungan AS-Iran memberikan dorongan naik bagi harga minyak, sementara potensi pembukaan kembali Selat Hormuz serta pemulihan distribusi Saudi menjadi faktor yang dapat membatasi kenaikan. Pasar akan terus mencermati apakah jalur diplomasi mampu meredakan risiko pasokan atau justru konflik kembali meningkat.
Sumber: Newsmaker.id