
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak rebound tajam pada perdagangan Rabu (23/9), menghentikan penurunan selama lima sesi berturut-turut setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa Teheran tidak akan menyerah terhadap tekanan Amerika Serikat. Brent crude naik 3,9% ke US$103,08 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,8% ke US$92,16 per barel.
Pernyataan Pezeshkian dalam Sidang Umum PBB menjadi perhatian pasar setelah ia mengatakan Iran tidak dapat dipaksa untuk menyerah. Sikap tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran investor terhadap kemungkinan memburuknya hubungan AS-Iran, terutama karena konflik kedua negara masih berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi global.
Sebelumnya, harga minyak sempat mengalami tekanan setelah Presiden AS Donald Trump menyebut pertemuan antara pejabat Amerika dan delegasi Iran berjalan positif. Harapan terhadap kemajuan diplomasi sempat mendorong pasar memperkirakan risiko gangguan pasokan akan berkurang, termasuk kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan minyak dunia.
Namun, pasar masih berhati-hati karena belum ada kesepakatan konkret antara kedua negara. Iran sebelumnya disebut bersedia membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu sekitar satu minggu apabila Amerika Serikat mengurangi tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran.
Analis menilai upaya mediasi dari sejumlah pihak, termasuk Pakistan, dapat membantu mengurangi risiko eskalasi konflik. Meski demikian, harga minyak diperkirakan masih bergerak volatil karena pasar harus menyeimbangkan antara peluang diplomasi dan risiko geopolitik yang masih tinggi.
Analisis Newsmaker: Kenaikan minyak kali ini lebih dipengaruhi oleh meningkatnya kembali premi risiko geopolitik setelah pernyataan keras Iran. Namun, pasar masih melihat ruang penurunan apabila jalur diplomasi AS-Iran menghasilkan kemajuan, terutama karena sebelumnya harga minyak telah terkoreksi cukup dalam akibat harapan pemulihan pasokan.
Sumber : Newsmaker.id