
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak dunia bergerak terbatas pada perdagangan Rabu (23/9) setelah berada di level terendah dalam lebih dari dua pekan. Perbaikan pasokan minyak dari kawasan Teluk serta meningkatnya harapan terhadap penyelesaian diplomatik konflik Amerika Serikat dan Iran membuat tekanan terhadap harga energi kembali meningkat.
Harga Brent crude naik tipis 0,16% ke level US$99,41 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) turun 0,55% menuju US$90,02 per barel. Brent sebelumnya sempat menyentuh level terendah sejak 8 September di US$97,36 per barel, sedangkan WTI mencapai level terendah sejak 1 September.
Tekanan terhadap minyak muncul setelah Arab Saudi kembali mengaktifkan jalur pipa East-West menuju Laut Merah. Jalur tersebut sebelumnya mengalami gangguan akibat serangan drone yang membuat pengiriman minyak melalui pelabuhan Yanbu sempat terhenti. Pemulihan jalur ini memberikan alternatif bagi Saudi untuk mengalihkan sekitar 4 juta barel minyak per hari dan mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan pasokan global.
Selain itu, pasar juga merespons positif peluang diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden Donald Trump menyatakan adanya pembicaraan produktif melalui mediator untuk mengakhiri konflik, sementara pejabat Iran menyebut Selat Hormuz berpotensi dibuka kembali dalam waktu tujuh hari apabila tekanan militer AS dikurangi dan blokade terhadap pelabuhan Iran dihentikan.
Newsmaker melihat, harga minyak saat ini berada dalam tarik-menarik antara membaiknya prospek pasokan dan risiko geopolitik yang masih tinggi. Pemulihan ekspor Saudi serta peluang pembukaan Selat Hormuz dapat terus menekan harga minyak, tetapi ketegangan di Timur Tengah masih menjadi faktor yang dapat memicu lonjakan harga secara cepat. Investor juga akan mencermati data persediaan minyak AS setelah laporan awal menunjukkan stok minyak mentah meningkat 1,8 juta barel, berlawanan dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan penurunan.
Sumber: Newsmaker.id