
Trending
Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Rabu (23/09) dan menuju penurunan terpanjang dalam setahun setelah investor mulai mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi akibat konflik Timur Tengah. Harapan terhadap kemajuan negosiasi Amerika Serikat dan Iran serta pemulihan jalur ekspor Arab Saudi menjadi faktor utama yang menekan harga minyak.
Harga Brent crude untuk kontrak November turun menuju area US$98,51 per barel, memperpanjang penurunan selama enam sesi berturut-turut dengan total pelemahan lebih dari 9%. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak November turun 1,1% ke level US$89,56 per barel, kembali berada di bawah US$90 per barel.
Tekanan terhadap minyak meningkat setelah Arab Saudi bersiap memulihkan kembali ekspor melalui jalur pipa East-West yang menjadi alternatif penting selain Selat Hormuz. Pipa tersebut memiliki kapasitas hingga 7 juta barel per hari dan memungkinkan Riyadh mengurangi ketergantungan terhadap jalur perdagangan utama yang selama konflik menjadi perhatian pasar.
Dari sisi geopolitik, sentimen pasar juga membaik setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut pertemuan antara pejabat AS dan perwakilan Iran berlangsung produktif. Trump mengatakan masih akan ada pembicaraan lanjutan, meningkatkan harapan bahwa kedua pihak dapat menemukan jalan keluar untuk mengurangi ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Namun, konflik antara Washington dan Teheran belum sepenuhnya berakhir. Kedua pihak masih memiliki perbedaan besar terkait status Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu titik utama perdagangan energi dunia. Iran tetap menegaskan pengaruhnya terhadap kawasan tersebut, sementara Amerika Serikat mempertahankan posisi bahwa jalur tersebut harus tetap terbuka untuk perdagangan internasional.
Selain konflik Iran–AS, pasar juga memantau aktivitas kelompok Houthi di Yaman yang masih meningkatkan tekanan terhadap kawasan Laut Merah dan fasilitas energi Arab Saudi. Serangan terhadap infrastruktur energi tetap menjadi risiko yang dapat kembali mendorong kenaikan harga minyak apabila eskalasi meningkat.
Newsmaker melihat, harga minyak saat ini sedang menghadapi tekanan dari membaiknya ekspektasi pasokan dan peluang diplomasi Timur Tengah. Jika pembicaraan AS–Iran menghasilkan perkembangan positif dan distribusi energi kembali normal, tekanan terhadap Brent dan WTI dapat berlanjut. Namun, risiko geopolitik tetap menjadi faktor utama yang dapat membalikkan arah harga dengan cepat.