
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak dunia kembali melonjak pada perdagangan Selasa (20/10/2026), dengan minyak mentah Brent menyentuh level tertinggi dalam lima bulan terakhir di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik Timur Tengah.
Minyak Brent sempat mencapai US$111,75 per barel, tertinggi sejak Mei, sebelum diperdagangkan pada US$111,20 per barel atau menguat 1,5% pada pukul 18.20 WIB. Sementara itu, kontrak minyak West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat untuk pengiriman November melonjak 5,2% menjadi US$109,08 per barel setelah sempat menyentuh US$110. Kenaikan tajam tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global akibat serangan terhadap kapal pengangkut minyak dan infrastruktur strategis Arab Saudi.
Ketegangan meningkat setelah kelompok Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran mengklaim telah melancarkan sejumlah serangan terhadap fasilitas energi, bandara, dan instalasi militer Arab Saudi. Target yang disebutkan meliputi fasilitas Saudi Aramco di Yanbu, ladang minyak Shaybah, Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, serta Bandara Abha. Meski otoritas Arab Saudi belum memberikan konfirmasi langsung dan klaim serangan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen, perkembangan ini meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan infrastruktur energi di kawasan Teluk. Situasi semakin mengkhawatirkan setelah sedikitnya 18 kapal dilaporkan menjadi sasaran serangan dalam dua pekan terakhir, sehingga memperbesar risiko gangguan distribusi minyak melalui jalur perdagangan strategis Timur Tengah.
Pelaku pasar kini memasukkan premi risiko geopolitik yang semakin tinggi ke dalam harga minyak, mencerminkan kekhawatiran terhadap kemungkinan terganggunya produksi dan distribusi energi. Analis ING menilai harga minyak masih mendapat dukungan kuat dari ketidakpastian keamanan kawasan, terutama selama ancaman terhadap jalur pengiriman minyak belum mereda. Jika aktivitas distribusi tetap berjalan normal, premi risiko tersebut berpotensi berkurang secara bertahap. Namun, meningkatnya intensitas serangan membuat pasar belum melihat tanda-tanda penurunan risiko yang signifikan. Di sisi lain, serangan Houthi terhadap kamp pelatihan pasukan keamanan pemerintah Yaman di Provinsi Shabwa dilaporkan menewaskan 58 orang dan melukai lebih dari 200 orang, semakin memperbesar kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan.
Selain faktor geopolitik, ekspektasi penurunan persediaan minyak mentah Amerika Serikat turut memberikan dukungan terhadap kenaikan harga. Survei awal analis memperkirakan stok minyak mentah dan produk olahan AS mengalami penurunan pada pekan sebelumnya, yang dapat memperketat keseimbangan pasokan dan permintaan global. Ke depan, investor akan mencermati perkembangan konflik Timur Tengah, keamanan jalur pelayaran di kawasan Teluk, serta laporan persediaan minyak AS untuk menentukan arah harga berikutnya. Jika gangguan pasokan terus meningkat, Brent berpotensi mempertahankan tren penguatan dan menguji level yang lebih tinggi. Sebaliknya, meredanya ketegangan dan pulihnya distribusi energi dapat membuka peluang koreksi setelah lonjakan harga yang cukup tajam.
Kesimpulan:
Harga minyak dunia masih menunjukkan kecenderungan bullish seiring meningkatnya risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah. Brent yang berhasil menyentuh US$111,75 mencerminkan besarnya kekhawatiran investor terhadap keamanan fasilitas energi Arab Saudi dan jalur distribusi minyak internasional.
Dalam jangka pendek, area US$110 menjadi level psikologis penting bagi Brent. Apabila tekanan geopolitik terus meningkat, harga berpotensi menguji US$115 per barel. Sebaliknya, jika situasi mulai mereda, aksi ambil untung dapat membawa harga kembali mendekati US$108.
Dampak terhadap pasar global: Kenaikan minyak berkepanjangan berpotensi mendorong inflasi, memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi, serta memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara pengimpor energi, termasuk rupiah. Bagi emas, kondisi ini menciptakan sentimen campuran antara meningkatnya permintaan aset aman dan kekhawatiran terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat.
Sumber: Newsmaker.id