
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak dunia ditutup beragam pada perdagangan Selasa seiring investor menimbang potensi tambahan pasokan diesel Rusia ke pasar global dengan risiko gangguan pasokan akibat meningkatnya ketegangan di Arab Saudi dan Yaman. Brent ditutup di US$105,69 per barel, turun 96 sen atau 0,9% dari sesi sebelumnya, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 40 sen atau 0,4% menjadi US$94,14 per barel.
Kontrak Brent sebelumnya mencatat penutupan tertinggi sejak 15 September, sedangkan WTI pada Selasa mencapai level penutupan tertinggi sejak 24 September. Di sisi kontrak jangka panjang, WTI untuk kalender 2027 naik ke rekor baru selama 12 sesi berturut-turut hingga mencapai US$84 per barel, sementara Brent kalender 2027 sebelumnya menyentuh rekor US$90 per barel.
Perhatian pasar tertuju pada kesepakatan yang memungkinkan ekspor diesel Rusia ke Amerika Serikat. Kesepakatan tersebut meningkatkan ekspektasi bahwa lebih banyak produk energi Rusia dapat kembali mengalir ke pasar global dan membantu meredakan kondisi pasokan bahan bakar yang sebelumnya ketat.
Namun, Kremlin menegaskan tidak melihat hubungan langsung antara kesepakatan ekspor diesel tersebut dan posisi Moskow dalam pembicaraan damai terkait Ukraina. Sebelumnya, muncul laporan bahwa pejabat AS menyampaikan kepada pemerintah Ukraina bahwa pembukaan kembali ekspor diesel Rusia merupakan bagian dari upaya menarik Moskow kembali ke meja perundingan.
Rusia merupakan salah satu produsen minyak mentah terbesar dunia, setelah Amerika Serikat dan Arab Saudi. Sanksi yang membatasi akses energi Rusia ke pasar global sejak konflik Ukraina dimulai pada 2022 telah menjadi salah satu faktor yang menopang harga minyak. Karena itu, potensi kembalinya pasokan Rusia dapat memberikan tekanan terhadap harga, meskipun risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah masih membatasi pelemahan lebih lanjut.
Pasar minyak selanjutnya diperkirakan tetap berada dalam tarik-menarik antara prospek tambahan pasokan Rusia dan meningkatnya risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah. Perkembangan kesepakatan diesel Rusia-AS, konflik di Arab Saudi dan Yaman, serta arah pasokan global akan menjadi faktor penting yang menentukan pergerakan Brent dan WTI dalam waktu dekat. (mrv)
Sumber : Newsmaker.id