
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas dunia kembali mengalami tekanan tajam pada perdagangan Kamis (22/10/2026), merosot ke level terendah dalam lebih dari dua bulan terakhir. Emas spot (XAU/USD) sempat anjlok hingga 2,3% dan diperdagangkan di bawah US$4.050 per troy ounce, seiring meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat lonjakan harga minyak dunia. Minyak mentah Brent kembali menembus US$110 per barel setelah serangan mematikan terhadap fasilitas energi Arab Saudi meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan Timur Tengah. Ketegangan tersebut semakin meningkat setelah Amerika Serikat memerintahkan sebagian personel kedutaan dan keluarga mereka meninggalkan Arab Saudi sebagai langkah antisipasi keamanan.
Tekanan terhadap emas semakin besar karena kenaikan harga energi memperkuat ekspektasi kebijakan moneter ketat Federal Reserve. Sejak konflik Amerika Serikat dan Iran meletus pada akhir Februari, harga emas terus menghadapi tekanan akibat tingginya inflasi energi dan meningkatnya biaya pinjaman. Meskipun emas secara tradisional dianggap sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga dan imbal hasil obligasi pemerintah AS membuat logam mulia yang tidak memberikan bunga menjadi kurang menarik. Di sisi lain, pelemahan pasar saham global akibat kekhawatiran terhadap besarnya investasi kecerdasan buatan (AI) turut meningkatkan volatilitas pasar keuangan, sehingga memperbesar tekanan terhadap berbagai aset investasi.
Menurut Alex Carrier, manajer portofolio DNCA Finance, pasar logam mulia tengah mengalami fase kapitulasi, yakni kondisi ketika tekanan jual meningkat tajam karena semakin banyak investor melepas posisi mereka. Ia memperkirakan volatilitas emas masih berpotensi bertahan setidaknya hingga pertemuan Federal Reserve pada 27–28 Oktober mendatang. Pelaku pasar kini mencermati arah kebijakan suku bunga AS, pergerakan harga minyak, serta kondisi pasar obligasi untuk menentukan prospek emas selanjutnya. Jika The Fed memberikan sinyal bahwa pengetatan moneter masih diperlukan guna mengendalikan inflasi, tekanan terhadap emas berpotensi berlanjut. Sebaliknya, pernyataan yang lebih lunak dari perkiraan dapat membuka peluang pemulihan harga.
Kesimpulan
Penurunan emas hingga ke bawah US$4.050 menunjukkan bahwa tekanan bearish semakin kuat dan pasar mulai menghadapi fase penjualan yang agresif. Lonjakan harga minyak dan meningkatnya ekspektasi suku bunga tinggi menjadi faktor utama yang membatasi daya tarik emas.
Sumber: Newsmaker.id