
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas dunia kembali melemah pada perdagangan Selasa (20/10/2026), memperpanjang tren penurunan selama tiga hari berturut-turut akibat meningkatnya kekhawatiran inflasi global.
Emas spot (XAU/USD) diperdagangkan di sekitar US$4.123 per troy ounce atau turun 0,42%, semakin mendekati level psikologis US$4.100. Tekanan terhadap logam mulia meningkat seiring lonjakan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik Timur Tengah, yang memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat (AS) akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang kembali menembus US$100 per barel menjadi salah satu faktor utama yang membebani pergerakan emas. Lonjakan tersebut dipicu meningkatnya ancaman gangguan pasokan setelah kelompok Houthi mengklaim serangan terhadap fasilitas energi Arab Saudi serta munculnya laporan serangan terhadap kapal-kapal di kawasan Selat Hormuz. Kenaikan harga energi berpotensi memperbesar biaya produksi dan transportasi, sehingga meningkatkan tekanan inflasi global. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa Federal Reserve harus mempertahankan kebijakan moneter ketat guna mengendalikan inflasi menuju target 2%.
Di Amerika Serikat, laporan indeks harga konsumen (CPI) dan indeks harga produsen (PPI) September yang lebih tinggi dari perkiraan semakin memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun. Berdasarkan CME FedWatch Tool yang dikutip dalam laporan pasar, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Oktober berada di kisaran 15–17%, sementara kemungkinan kenaikan pada Desember mendekati 90%. Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) bergerak di sekitar 101,88, sedangkan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bertahan mendekati 5,13%. Tingginya imbal hasil obligasi menjadi tekanan bagi emas karena investor cenderung mempertimbangkan instrumen berbunga dibandingkan logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil.
Dari sisi teknikal, pergerakan emas masih menunjukkan kecenderungan bearish setelah harga bertahan di bawah indikator rata-rata pergerakan utama atau Simple Moving Average (SMA) 50, 100, dan 200 hari. Dalam beberapa pekan terakhir, XAU/USD bergerak dalam kisaran US$4.100 hingga US$4.200, dengan area US$4.100 menjadi support psikologis penting. Apabila level tersebut ditembus secara konsisten, tekanan jual berpotensi membawa harga menuju US$4.000–US$3.950 per troy ounce. Sebaliknya, pemulihan menuju US$4.200 menjadi langkah awal yang diperlukan untuk mengurangi tekanan bearish. Investor kini menantikan pertemuan The Fed pada 27–28 Oktober serta perkembangan harga minyak, dolar AS, dan imbal hasil Treasury sebagai penentu arah emas berikutnya.
Kesimpulan Newsmaker
Harga emas masih menghadapi tekanan bearish dalam jangka pendek akibat meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan tingginya harga minyak dunia. Meskipun ketegangan geopolitik biasanya mendukung permintaan emas sebagai aset aman, kali ini kekhawatiran inflasi dan suku bunga tinggi lebih mendominasi pergerakan pasar.
Sumber: Newsmaker.id