
Trending

Emas
Sumber: Newsmake.id
Harga emas (XAU/USD) bergerak terbatas pada perdagangan Jumat (16/10) setelah menguat pada sesi sebelumnya. Emas mengalami pergerakan antara kenaikan tipis dan pelemahan ringan selama sesi Asia, sementara dolar AS menyentuh level terendah dalam hampir dua pekan. Pelemahan dolar dan penurunan tajam yield obligasi pemerintah AS menjadi faktor pendukung bagi emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dalam pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bangkok tidak memberikan sinyal jelas mengenai keputusan suku bunga berikutnya. Dalam diskusi bersama Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva, Warsh menegaskan bahwa The Fed akan tetap berkomitmen terhadap stabilitas harga dan tidak ingin mendahului hasil setiap pertemuan kebijakan.
Namun, pernyataan Warsh belum mengubah secara signifikan ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed. Fokusnya terhadap lonjakan investasi dan perkembangan AI menunjukkan bahwa bank sentral masih mempertimbangkan dampak pertumbuhan ekonomi sekaligus risiko terhadap perekonomian. Sikap tersebut membuat pasar tetap berhati-hati dalam memperkirakan arah suku bunga hingga akhir tahun.
Tekanan terhadap emas masih berasal dari inflasi AS yang tetap tinggi. Data PPI September menunjukkan kenaikan 1,3% secara bulanan dan 6,3% secara tahunan, sementara PPI inti meningkat 0,7% secara bulanan dan 5% secara tahunan. Data tersebut mengindikasikan tekanan harga mulai meluas di luar sektor energi dan berpotensi mempertahankan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
Berdasarkan CME FedWatch, pasar memperkirakan peluang lebih dari 90% untuk kenaikan suku bunga The Fed pada Desember. Kondisi ini menjadi tantangan bagi emas karena suku bunga yang lebih tinggi dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis imbal hasil. Di sisi lain, pelemahan dolar dan turunnya yield Treasury memberikan ruang bagi emas untuk mempertahankan penguatannya.
Analisis Newsmaker: Emas saat ini berada dalam tarik-menarik antara dukungan dari pelemahan dolar dan yield dengan tekanan dari ekspektasi suku bunga The Fed yang masih hawkish. Eskalasi konflik di Timur Tengah juga meningkatkan permintaan safe haven, tetapi sekaligus berpotensi menjaga harga energi tetap tinggi dan memperkuat tekanan inflasi. Selama yield dan dolar belum kembali menguat signifikan, emas masih memiliki peluang mempertahankan momentum positif, meski volatilitas tetap tinggi menjelang keputusan The Fed berikutnya. (asd)
Sumber: Newsmaker.id