
Trending

Analisis & Opini
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas dunia kembali menjadi perhatian pada perdagangan Senin (26/10/2026), setelah bergerak di sekitar US$4.003 per troy ounce. Posisi tersebut menunjukkan bahwa emas masih kesulitan bangkit setelah mengalami penurunan lebih dari 4% sepanjang pekan sebelumnya, sekaligus mencatat pelemahan mingguan terdalam sejak Juni. Meski harga mulai bergerak mendekati level psikologis US$4.000, tekanan jual belum sepenuhnya mereda. Pelaku pasar kini menghadapi pertanyaan penting, apakah pelemahan emas sudah cukup dalam untuk menarik kembali minat beli atau justru menjadi awal penurunan yang lebih besar?
Dari sisi fundamental, tekanan terhadap emas masih dipengaruhi kekhawatiran inflasi Amerika Serikat akibat tingginya harga minyak dunia. Konflik Timur Tengah dan ancaman gangguan pasokan energi membuat harga minyak tetap berada pada level tinggi, meskipun mulai mengalami koreksi terbatas. Kondisi tersebut berpotensi mempertahankan tekanan inflasi dan membuat Federal Reserve (The Fed) lebih berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneter. Ekspektasi suku bunga tinggi menjadi tantangan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga, sehingga daya tariknya dapat berkurang dibandingkan aset berbunga.
Namun, peluang pemulihan emas belum sepenuhnya tertutup. Pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS dalam beberapa sesi terakhir sebenarnya dapat memberikan ruang bagi harga emas untuk kembali menguat. Di sisi lain, ketidakpastian geopolitik Timur Tengah masih berpotensi menjaga permintaan aset aman. Menurut pandangan kami, persoalan utama emas saat ini bukan hilangnya daya tarik sebagai aset lindung nilai, melainkan keraguan investor mengenai seberapa lama The Fed akan mempertahankan kebijakan ketat. Karena itu, perubahan ekspektasi suku bunga dapat menjadi pemicu penting bagi pembalikan arah harga.
Dari sisi teknikal, kawasan US$4.000 menjadi titik penting yang sedang diperebutkan pembeli dan penjual. Apabila emas mampu bertahan di atas level tersebut dan kembali menembus area resistance US$4.028–US$4.050, peluang pemulihan menuju US$4.100 dapat terbuka. Sebaliknya, jika harga kembali turun dan bertahan di bawah US$4.000, tekanan jual berpotensi membawa emas menguji support sekitar US$3.975–US$3.970, kemudian US$3.940 apabila pelemahan berlanjut. Meski demikian, penembusan level teknikal perlu dikonfirmasi oleh pergerakan harga berikutnya karena volatilitas menjelang keputusan suku bunga dapat memicu pergerakan naik dan turun secara tiba-tiba.
Pandangan kedepannya, fokus utama investor tertuju pada pertemuan The Fed tanggal 27–28 Oktober, disusul rilis pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat dan data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE). Jika The Fed memberikan sinyal bahwa kenaikan suku bunga tambahan masih diperlukan, emas berisiko kembali menghadapi tekanan. Sebaliknya, apabila bank sentral menunjukkan sikap yang lebih lunak dibandingkan ekspektasi pasar, penurunan dolar dan imbal hasil obligasi dapat membantu mendorong pemulihan emas. Menurut pandangan kami, emas memang masih berada dalam fase yang rentan, tetapi peluang bangkit tetap terbuka. Kuncinya bukan sekadar kemampuan harga bertahan di US$4.000, melainkan apakah sentimen fundamental mulai memberikan alasan bagi investor untuk kembali membeli.