Dolar Tertahan di 99, Drama Greenland Belum Reda
Indeks dolar AS bergerak di sekitar 99 pada Selasa, setelah jatuh tajam pada sesi sebelumnya. Tekanan datang dari meningkatnya ketegangan antara Washington dan Eropa terkait rencana Presiden AS Donald Trump untuk “membeli” Greenland, yang membuat kepercayaan terhadap aset-aset AS ikut terguncang.
Akhir pekan lalu, Trump memperingatkan bahwa delapan negara Eropa yang menolak rencana tersebut bisa dikenakan tarif 10% mulai 1 Februari. Ia juga mengancam tarif itu bisa naik menjadi 25% pada 1 Juni jika tidak ada kesepakatan terkait Greenland. Ancaman ini langsung memicu kekhawatiran pasar akan babak baru konflik dagang.
Para pemimpin Eropa mengecam pernyataan itu sebagai tidak dapat diterima, sambil menimbang opsi respons yang mungkin diambil. Di pasar, yang paling ditakuti bukan hanya tarifnya, tetapi efek domino: tekanan ke perdagangan, ke pertumbuhan, lalu ke sentimen investasi global.
Sejumlah analis mengingatkan bahwa Eropa memegang posisi besar di aset AS, termasuk obligasi dan saham dalam jumlah sangat besar. Ini bisa menjadi “kartu” yang dapat dipakai jika sengketa dagang makin memanas, karena pergeseran arus investasi dapat berdampak langsung pada dolar dan pasar keuangan AS.
Untuk sementara, investor juga mulai mengalihkan fokus ke agenda data AS minggu ini. Pasar menunggu rilis indikator penting seperti PCE price index, estimasi terbaru PDB kuartal III, S&P PMI, hingga survei sentimen konsumen University of Michigan—data yang bisa menentukan apakah dolar mampu pulih atau tetap tertekan.(asd)
Sumber: Newsmaker.id