Iran–Israel Klaim Tahan Serangan, Risiko Hormuz dan Lebanon Masih Menggantung!
Iran dan Israel menyatakan akan mengurangi intensitas serangan setelah eskalasi terbaru mengancam jalur negosiasi damai dan memicu Presiden AS Donald Trump menyerukan de-eskalasi. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan Israel akan menahan tembakan ke Iran “untuk saat ini”, namun akan merespons jika Teheran menyerang lagi.
Sinyal mereda itu dibayangi fakta bahwa Israel tetap disebut melanjutkan serangan besar di Lebanon selatan, wilayah tempat Israel bertempur melawan Hezbollah yang didukung Iran. Dari sisi Teheran, Iran sebelumnya mengumumkan penghentian operasi militernya terhadap Israel, tetapi komando militer pusat Iran memperingatkan bahwa jika Israel terus menyerang—termasuk di Lebanon selatan—respons yang “lebih keras dan menghancurkan” akan menyusul.
Ketidakpastian juga muncul setelah laporan New York Times menyebut sebuah helikopter Apache AS jatuh dekat Selat Hormuz dan belum jelas apakah insiden disebabkan masalah teknis atau ditembak jatuh Iran. Dua awak dilaporkan selamat dan berhasil diselamatkan, sementara Trump mengatakan laporan resmi akan dirilis pada Selasa.
Pernyataan kedua pihak muncul setelah Trump berbicara lewat telepon dengan Netanyahu, yang dikonfirmasi pejabat Gedung Putih tanpa detail isi percakapan. Netanyahu mengatakan ia menyampaikan kepada Trump bahwa Israel berhak membela diri, dan menolak peringatan Iran bahwa serangan Israel terhadap Hezbollah di Lebanon akan memicu serangan baru Iran. Trump sendiri kembali menyebut pembicaraan gencatan “dalam fase final”, meski mengakui proses bisa terganggu oleh “ketidaktahuan atau kebodohan”.
Pasar merespons sinyal de-eskalasi dengan mengurangi sebagian premi risiko. Brent turun hampir 1% ke sekitar US$93,40/barel dan indeks dolar Bloomberg melemah tipis. Namun fokus utama tetap pada apakah arus energi di Selat Hormuz bisa pulih signifikan, karena meski ada tanda kapal komersial mulai kembali melintas, sebagian kapal disebut berlayar dengan transponder dimatikan—cerminan bahwa risiko keamanan masih dipandang tinggi.
Ancaman eskalasi juga bergeser ke front lain. Kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman mengklaim meluncurkan rentetan rudal ke Israel dan mengumumkan larangan total navigasi bagi kapal Israel di Laut Merah. Israel melaporkan mencegat target udara mencurigakan dari Yaman setelah sirene berbunyi di wilayah Eilat, memperkuat pesan pasar bahwa “mereda” di satu titik belum otomatis berarti risiko kawasan benar-benar turun.(Asd)
Sumber: Newsmaker.id